Parenting ParentingCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
parenting

Mengelola Tantrum pada Balita: Pengalaman Seorang Ibu

Cara tenangkan anak tantrum tanpa teriak. Pengalaman langsung seorang ibu di Pulauenggano yang bisa dicoba orang tua lain.

24 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Hana Halim Tanjung
Mengelola Tantrum pada Balita: Pengalaman Seorang Ibu

Sebagai ibu dua anak di Pulauenggano, saya seringkali dihadapkan pada momen-momen menegangkan saat si kecil tiba-tiba ngamuk, berguling di lantai, atau melempar barang karena keinginannya tidak terpenuhi. Awalnya, saya merasa bingung dan frustrasi menghadapi situasi ini. Tapi setelah mencoba berbagai pendekatan, saya menyadari bahwa kunci utama menghadapi tantrum adalah tetap tenang dan memberikan ruang emosi yang aman bagi anak.

Memahami Pemicu dan Cara Merespons Tantrum

Tantrum pada balita sebenarnya bagian normal dari tumbuh kembang. Di usia satu hingga tiga tahun, anak belum bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata sehingga ledakan emosi menjadi cara mereka berkomunikasi. Pemicu paling umum adalah rasa lelah, lapar, atau keinginan yang tidak terpenuhi. Saya belajar untuk mengamati pola anak: jika ia mulai rewel menjelang jam tidur, saya langsung mengajaknya ke kamar dan membacakan cerita. Jika ia ngambek karena ingin mainan, saya duduk di dekatnya, menatap matanya, dan berkata pelan, “Ibu tahu kamu kesal. Kamu boleh menangis, tapi Ibu tidak akan membelikan mainan itu sekarang.” Tanpa teriakan atau ancaman, anak justru lebih cepat reda karena merasa dipahami.

Teknik lain yang sering saya gunakan adalah mengalihkan perhatian. Misalnya, saat anak marah karena remote TV tidak boleh dipegang, saya tunjukkan buku bergambar atau ajak ia bernyanyi. Distraksi sederhana ini sering berhasil karena rentang perhatian balita masih pendek. Namun, yang paling penting adalah konsistensi. Jika kita sekali menuruti tangisan demi diam, anak akan belajar bahwa tantrum adalah alat untuk mendapatkan keinginan. Oleh karena itu, saya dan suami sepakat untuk tidak mengubah aturan meskipun anak menangis keras.

Selain itu, pastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi sebelum ia mulai rewel. Riset dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya jadwal makan, tidur, dan bermain yang teratur untuk mencegah tantrum. Saya menerapkan rutinitas harian yang jelas: bangun, sarapan, bermain, tidur siang, dan seterusnya. Hasilnya, frekuensi tantrum anak saya berkurang drastis.

Menghadapi tantrum tidak perlu menjadi momok. Setiap kali anak saya tenang setelah menangis, saya memeluknya dan mengucapkan terima kasih karena sudah mau ditenangkan. Pelukan hangat dan ucapan positif seperti itu membangun ikatan emosional yang kuat. Anak belajar bahwa emosi marahnya diterima, namun ada batasan yang harus dihormati. Lambat laun, ia mulai mengenali perasaannya sendiri dan lebih mudah diajak bicara.

Saya yakin setiap orang tua punya cara unik menghadapi tantrum. Yang terpenting jangan bandingkan anak Anda dengan anak lain, karena setiap balita memiliki temperamen berbeda. Nikmati proses tumbuh kembang ini, karena fase tantrum tidak akan berlangsung selamanya. Suatu hari nanti, Anda akan rindu saat anak masih kecil dan rewel, karena itu tandanya ia sedang belajar menjadi manusia seutuhnya.

Tag: #tantrum #balita #pengasuhan