Parenting ParentingCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
parenting

Parenting Sehari-hari: Seni Menghadapi Tantrum Anak

Tips menghadapi tantrum anak di tengah kesibukan sehari-hari. Pengalaman langsung dari Pulauenggano yang bisa dicoba orang tua muda.

23 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Hana Halim Tanjung
Parenting Sehari-hari: Seni Menghadapi Tantrum Anak

Pagi itu, ketika kopi saya masih panas dan rencana kerja sudah menumpuk, si kecil tiba-tiba menjerit keras. Biskuitnya patah, dan dunia seakan runtuh baginya. Saya menarik napas panjang, mengingatkan diri sendiri bahwa ini bukan tentang biskuit. Sebagai ibu bekerja di Pulauenggano, saya terbiasa dengan ritme yang padat, tapi tantrum anak selalu punya cara untuk menguji kesabaran. Setelah bertahun-tahun menghadapi ledakan emosi kecil ini, saya menyadari bahwa kuncinya bukan pada menghindari tantrum, melainkan pada cara kita meresponsnya.

Mengapa Tantrum Terjadi dan Bagaimana Menyikapinya

Tantrum adalah bagian normal dari perkembangan anak, terutama pada usia 1–4 tahun ketika mereka belum mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Anak kecil belum memiliki kontrol emosi yang matang. Saat ia frustrasi, lelah, atau lapar, tantrum adalah satu-satunya cara mereka berteriak minta tolong. Dari pengalaman saya di Pulauenggano, lingkungan yang tenang dan dekat dengan alam justru membantu anak lebih cepat tenang. Misalnya saat si kecil marah, saya sering mengajaknya duduk di teras menghadap kebun, membiarkan angin menyentuh wajahnya. Namun tak semua orang punya akses seperti itu. Yang terpenting adalah tetap dekat secara fisik dan emosional. Duduklah di lantai setinggi matanya, bicara dengan suara lembut, dan hindari memarahi. Anak perlu merasa aman meski sedang meluapkan amarah Versi lebih panjang di parenting.

Saya juga belajar bahwa konsistensi rutinitas harian sangat membantu mengurangi frekuensi tantrum. Di rumah, saya usahakan waktu makan, tidur siang, dan bermain selalu sama setiap hari. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, ia lebih mudah menerima perubahan kecil. Jika tantrum tetap terjadi, saya gunakan teknik “time-in” bukan “time-out”. Saya menggendongnya, memberikan pelukan erat, dan mengalihkan perhatian ke benda-benda sederhana seperti daun kering atau batu di halaman. Cara ini terasa lebih manusiawi dan mengajarkan anak bahwa emosi marah tidak perlu ditakuti, melainkan dipahami.

Menurut Wikipedia Indonesia, tantrum adalah ledakan emosi yang umum terjadi pada anak-anak dan biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia serta kemampuan berbahasa mereka. [1] Sumber itu juga mengingatkan kita untuk tidak menyerah pada tuntutan anak saat tantrum, karena justru akan memperkuat perilaku tersebut. Saya setuju, meskipun kadang godaan untuk menghentikan tangisan dengan memberikan apa pun yang diminta sangat besar. Tapi saya lebih memilih tetap tenang dan mengatakan “Ibu tahu kamu marah, tapi kita tidak bisa makan biskuit lagi sekarang” sambil tetap memeluknya. Setelah beberapa kali, ia mulai memahami bahwa tantrum bukanlah cara untuk mendapatkan keinginan.

Sampai saat ini, masih ada hari-hari di mana saya merasa kewalahan. Tapi saya bersyukur bisa menjalani peran sebagai ibu sekaligus pekerja di Pulauenggano. Setiap tantrum yang berhasil saya lalui bersama si kecil membuat ikatan kami semakin kuat. Saya pun belajar bahwa tantrum bukanlah musuh, melainkan sinyal bahwa anak sedang butuh bantuan. Kini, setiap kali tangisnya pecah, saya tarik napas dan mengingat betapa berharganya momen itu—momen di mana saya bisa hadir sepenuhnya untuknya, meski tugas lain menanti. Itulah esensi parenting sehari-hari: bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kehadiran yang tulus.


[1] Wikipedia Indonesia – Tantrum (diakses 2026).

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #parenting #tantrum #ibu bekerja #tumbuh kembang anak #kesehatan anak